RSS
 

Sudahkah Engkau Bersujud Kepada-Nya, Mensyukuri Nikmat-Nya…………..

18 Mar

*Sudahkah Engkau Bersujud Kepada-Nya, Mensyukuri Nikmat-Nya, Anakku?*

*Oleh : Erna Manimbangi *

Perjalanan hidupmu sudah genap memasuki angka 12. 12 tahun bukanlah angka
yang sedikit untuk mensyukuri segala nikmat-Nya kepadamu. Alhamdulillah,
lantunkan itu sayang dalam setiap langkahmu. Jangan engkau lupakan segala
pemberian-Nya kepadamu yang sungguh tak dapat dihitung walau seluruh temanmu
engkau ajak untuk turut membantu, walau seluruh keluarga juga turut
membantumu, bahkan walau seluruh manusia turut membantumu, tak dapat
semuanya menghitung betapa banyak nikmat yang telah diberikan kepadamu
sampai hari ini.

Coba hitung sayang, sudah berapa liter udara-Nya yang engkau hirup secara
gratis, tanpa bayar sama sekali, sejak engkau menangis untuk pertama kalinya
di pagi 27 ramadhan, 27 Februari, 12 tahun yang lalu. Andai saja Allah
menahannya tidak memberimu barang itu tiga menit saja, maka mungkin hidupmu
tidak bertahan sampai genap ‘dua belas’ seperti hari ini. Ya…tiga menit
saja udara tidak mengalir ke dalam paru-parumu, engkau akan kesusahan yang
teramat sangat, dan untuk menit selanjutnya akan merasakan sakit yang
teramat sangat. Jika belum tahu rasanya, maka cobalah menutup mulutmu, dan
juga menutup hidungmu dan rasakan pada hitungan menit keberapa engkau sudah
sangat ingin menghirup udara-Nya yang telah Ia sediakan untukmu, tanpa harus
mengeluarkan uang sepeserpun. Tanpa harus bersusah payah mengambilnya di
tempat yang jauh dan mengeluarkan tenaga yang banyak untuk memperolehnya.
Tanpa harus menghiba-hiba kepada pencipta zat itu karena khawatir Ia marah
padamu dan menahannya tak memberikanmu. Tanpa engkau minta, Dia tetap
memberimu dengan kasih sayangnya yang tak bertepi.

Sepanjang hari, walau engkau terlelap dalam tidur yang panjang Dia tetap
mengirimkan penunjang hidupmu itu. Sepanjang minggu, sepanjang bulan
sepanjang tahun, selama dua belas tahun, masih Dia begitu murahnya memberimu
tanpa pernah menghentikannya. Mungkin pernah suatu saat engkau begitu susah
untuk menghirup udara-Nya saat Dia mengujimu dengan sedikit rasa sakit di
tenggorokanmu dan di dadamu. Ummi ingat suatu saat engkau hanya bisa
menangis karena cairan di hidungmu menghambatmu untuk menghirup udaranya
dengan leluasa. Engkau terbangun dari tidur nyenyakmu dan menangis di tengah
malam itu karena engkau masih belum tahu mengungkapkan perasaanmu karena
kepandaian berbicara belum Dia berikan kepadamu.

Ummi begitu kasihan melihatmu sering terjaga dan menangis beberapa kali
dalam semalam itu. Tapi itu hanya beberapa lama, sangat sedikit sekali jika
dibandingkan nikmat sehat yang engkau telah lalui selama dua belas tahun
ini, sehingga engkau bebas sebebas-bebasnya menghirup udara-Nya tanpa engkau
minta. Untuk semua itu, sudahkah engkau bersujud kepada-Nya, mensyukuri
nikmat besarnya itu, anakku? Sudahkah engkau mengucapkan
‘Alhamdulillah’ sembari
mengenang begitu pemberian-Nya kepadamu kadang luput engkau syukuri selama
ini.

Lihatlah tubuhmu, anakku. Saat di telepon engkau mengabarkan tinggi tubuhmu
sudah 150 centimeter, 7 sentimeter lagi tubuhmu sudah setinggi Ummi.

Subhanallah…rasanya belum lama berlalu saat engkau masih tertatih-tatih
belajar berjalan karena kakimu belum begitu kuat untuk menopang tubuhmu yang
masih puluhan sentimeter tingginya. Rasanya baru saja ummi menggendongmu
karena kelelahan mengelilingi rumah Allah dalam tawaf yang hanya tujuh kali
putaran itu. Rupanya tubuhmu masih terlalu kecil untuk kuat bersama
orang-orang yang mencoba mendekatkan diri kepada-Nya berkeliling menyebut
nama-Nya. Engkau menyerah dan minta digendong oleh ummi. Sekali waktu abi
lah yang menggendongmu karena lebih kuat melakukan itu.

Sungguh begitu banyak sudah makanan yang masuk ke tubuhmu sehingga tinggimu
bisa menjadi seperti sekarang. Entah sudah berapa puluh bahkan ratus
kilogram beras telah engkau habiskan untuk menunjang pertumbuhan tubuh,
tulang, otak dan seluruh asesoris tubuhmu. Entah sudah berapa banyak ikan
yang mati dan rela mengisi perutmu karena Allah memerintahkan itu kepadanya.
Entah sudah berapa ekor ayam, dan juga telur-telurnya, sapi, kambing, yang
bernasib sama semua untuk mengisi kebutuhanmu. Dan coba hitunglah berapa
banyak tumbuhan yang dihidupkan oleh Allah sekedar untuk memenuhi
kebutuhanmu akan sayuran dan buah-buahan.

Dan berapa banyak gula yang dihasilkan dari pohon-pohon tebu yang diciptakan
Allah untuk memenuhi kenikmatan lidahmu dikala engkau menjilati es krim yang
menjadi kegemaranmu. Belum lagi berapa banyak ibu sapi yang rela membagi
susu untuk bayinya untuk dijadikan minuman yang menyehatkan tubuhmu. Semua
tak luput dari perhatian Allah yang begitu besar kepadamu. Tak setetes
susupun yang masuk ketubuhmu kecuali dengan perhitungan yang amat sempurna
untuk memenuhi janjinya bahwa Ia akan menjamin rezeki setiap hambanya.

Untuk semua itu, sudahkah engkau bersujud kepada-Nya dan mensyukuri segala
pemberian-Nya kepadamu, anakku? Beberapa bulan yang lalu, engkau mengabarkan
bahwa engkau mendapat peringkat ke tiga terbaik dalam lomba matematika di
kota kelahiranmu. Suatu karunia yang besar yang telah diberikan kepadamu
sekali lagi oleh-Nya anakku. Dialah Allah yang telah menciptakan otakmu
mampu mencerna dan menyelesaikan soal-soal yang dipandang susah oleh
sebagian orang.

Teringat engkau telah pandai membaca saat umurmu belum genap empat tahun.
Engkau bahkan telah pandai mengeja kata-kata pendek yang tertulis di majalah
diatas pesawat yang membuat seorang ibu disamping ummi terkesima melihat
engkau yang masih sangat kecil sudah dpat mengenal huruf-huruf dan berusaha
membacanya.

Waktu itu dalam perjalanan menuju ke Sudan, umurmu baru saja melewati dua
tahun. Juga ummi ingat sekali saat adikmu almarhum Zahid baru lahir, engkau
telah dapat mengeja huruf-huruf hijaiyyah yang ummi buat dan tempelkan di
dinding kamar tidur yang penuh warna-warni itu. Saat itu usaiamu belum lagi
genap dua tahun.

Ummi ingat pula saat perpisahan di TK Wihdatul Ummah, engkau terpilih
menyampaikan pidato perpisahan mewakili teman-temanmu. Terasa begitu mudah
engkau menghapalkan pidato-pidato yang ummi buatkan untukmu. Karena masih
sering ada kata-kata yang engkau lupa maka tulisan itu ummi buatkan untuk
engkau bawa dan dibaca saat engkau lupa pidatomu. Ummi terharu sekali saat
engkau naik di panggung dan menyampaikan sepatah katamu itu. Dengan wajah
polosmu yang baru berusia lima tahun lebih sedikit engkau memesona hadirin
yang hadir di tempat itu. Dan saat kata itu hilang dari memorymu engkau
dengan lugunya melihat contekanmu untuk membaca apa yang telah ummi tuliskan
untukmu. Tentu saja para hadirin tertawa geli melihat tingkahmu itu. Dengan
percaya diri engkau teruskan membaca contekanmu sambil sekali-sekali
berhenti, mencoba mengingat apa yang telah engkau hafalkan sebelumnya. Lucu
sekali dan menggelikan. Ummi bangga padamu anakku. Engkau pandai sayangku,
engkau cerdas anakku, Allah telah menganugerahkan semua itu kepadamu.
Allahlah yang telah membuat otakmu

mudah menerima pelajaran-pelajaran dan menyimpannya di memory otakmu untuk
beberapa lama, dan saat dibutuhkan engkau mudah mengambilnya. Allahlah yang
telah menyusun otakmu dengan amat sempurna. Alhamdulillah. Segala puji bagi
Allah yang mampu mencipta seperti itu.

Untuk semua itu, sudahkah engkau bersujud kepada-Nya dan mengucap syukur
kepada-Nya atas nikmatnya yang sungguh besar itu? Sudahkah engkau banyak
mengingatnya karena sungguh sayangnya kepada-Mu jauh melebihi sayangnya
seorang ibu kepada anaknya. Ummi sangat menyayangimu, tak terucap dengan
kata-kata betapa ummi sangat menyayangimu, tapi ternyata ada yang lebih
menyayangimu dari sayang ummi ini.

Dialah Allah, Rabbul Izzati yang telah menyempurnakan penciptaan-Nya
kepadamu. Dialah Allah yang menjagamu sepanjang hari, memberimu segala
sesuatu tanpa sedikitpun pernah meminta untuk dikembalikan. Dialah Allah
yang telah menyediakan begitu banyak rezeki untuk jatah hidupmu di dunia
ini. Dialah Allah sang Maha Penyayang yang memberikanmu orang-orang yang
menjaga dan mengasihimu sejak engkau baru lahir sampai saat ini. Dia
memberimu seorang ayah yang dengan perantaraannya dikirimkannya makanan yang
dapat terbeli untuk kelangsungan hidupmu. Dialah pula yang memberimu seorang
ibu yang menjagamu dan mengasihimu sejak engkau di buaian, sampai saat ini.
Beruntung engkau anakku masih mempunyai ayah dan ibu sampai saat engkau
sebesar ini. Walaupun kami jauh darimu saat ini, tapi setidaknya engkau
masih memilikinya. Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam tidak pernah
melihat sosok ayahnya, dia pun hanya enam tahun bisa merasakan kehangatan
kasih ibunya.

Rasulullah tercinta telah kehilangan orang-orang yang dicintainya sejak
masih kecil, dan beruntun untuk tahun-tahun selanjutnya telah kehilangan
orang yang teramat sangat dicintai dan melindunginya.

Untuk semua itu sudahkah engkau bersujud dan bersyukur kepada-Nya anakku?

Cobalah lihat ke seluruh tubuhmu anakku. Disana tersebar kasih sayang Allah
kepadamu. Mulai dari mata, bibir, hidung, tubuh, tangan, kaki, semuanya
dengan ciptaan yang amat sempurna. Tidak ada yang kurang, seperti banyak
saudara-saudaramu yang lain di bumi Allah ini yang mendapat kasih sayang-Nya
dalam bentuk yang lain. Mereka tidak punya lengan, mereka tidak punya kaki,
mereka buta, mereka cacat, mereka tidak dapat berlari kemana-mana, hanya
kursi roda yangmenemaninya sehingga dengan begitu gerakannya sangat
terbatas. Bakhan ada yanghanya berdiam di tempat tidur karena sama sekali
tak kuasa menggerakkan tubuhnya, tangannya begitu lemah untuk sekedar
menggerakkan roda-roda kursinya. Mereka tak bisa ke sekolah seperti apa yang
engkau lakukan setiap hari. Mereka tak bisa melihat indahnya ciptaan Allah
seperti engkau melihat hijaunya daun, indahnya warna-warni bunga, indahnya
mentari pagi dan indahnya matahari terbenam di pantai dekat rumah puang
nenek.

Mereka tak bisa mendengar dengan telinganya seperti engkau selalu mendengar
celoteh adik-adikmu saat berbicara di telepon bercerita kepadamu tentang
Jepang dan bahasa Jepang. Dan mereka juga tak bisa berbicara dengan lancar
seperti engkau lancar berbicara kepada ummi menceritakan segala sesuatu yang
engkau alami dan engkau lihat.

Untuk semua itu, sudahkah engkau bersujud dan mengucap syukur kepada-Nya
anakku?

Sesungguhnya masih banyak hal-hal disekelilingmu yang Allah telah berikan
untukmu, untuk seorang yang bernama Zakiy, yang lahir pada tanggal 27
Februari 1995, tak meleset, hanya untuk seorang Zakiy, Zakiy Gazali, bukan
Zakiy Muhammad atau Zakiy Haerul atau Zakiy lainnya….yang tak dapat
dihitung berapa banyak pemberian-Nya kepadamu, anakku.

Untuk semua itu, sudahkah engkau bersujud dan mengucap syukur kepada-Nya
wahai anakku sayang?

Semoga engkau menjadi orang yang pandai melihat segala nikmat-Nya kepadamu
dan pandai untuk mensyukurinya sehingga setiap langkah dan gerakmu akan
bermuara kepada-Nya, melahirkan kecintaan yang tiada terperi kepada Zat yang
telah memberi begitu banyak cintanya, kepadamu. Semoga dengan banyak
bersujud dan mensyukuri nikmat-Nya, engkau akan diangkat ke derajat
orang-orang yang mendapat predikat kekasih Allah dan bisa berkumpul dengan
para kekasih Allah yang senantiasa rindu untuk bertemu dengan zat yang Maha
Penyayang…Allah subhanahu wata’ala.

Nagasaki, 27 Februari 2007

 
2 Comments

Posted in Story

 

Leave a Reply

 
 
  1. yasserNo Gravatar

    May 2, 2008 at 5:50 pm

    Tuliasannya sangat bagus

     
  2. yulitaNo Gravatar

    November 5, 2008 at 6:35 am

    adik zakiy.. begitu beruntungnya kamu mempunyai ibu yang begitu menyayangimu.. begitu beruntungnya kamu mempunyai ibu yang selalu setia menerangi hatimu dengan segala ajaran-ajaran Sang Pencipta.. semoga ibunda zakiy selalu mendapatkan ridho Allahu Azza wajalla.. salam