“Kebahagian yang dicari, kesedihan yang di dapat”, demikianlah keluhan banyak manusia. entah di gunung atau di pantai, di desa atau di kota, di rumah mewah atau di rumah sederhana, berpendidikan tinggi atau berpendidikan renda, sebagian diisi oleh manusia dengan keluhan seperti ini. Lebih – lebih di rumah Indonesia yang menyimpan demikian banyak pekerjaan rumah dari kepemimpinan sampai pengangguran. sehingga dalam kesederhanaan pemahaman dapat disimpulkan bahwa dalam banyak komunitas manusia, kesedihan serupa dengan musuh, penyakit, hantu bahkan setan yang menakutkan. tidak ada pilihan lain selain mengusirnya jauh-jauh.
padahal, siapa saja yang pernah menyelam ke dalam lapisan-lapisan dalam kehidupan, entah melalui pengetahuan, pengalaman, pasti pernah melihat kalau kesedihan bukan lawan (apalagi musuh) kebahagiaan. kesedihan, di kedalaman renungan seperti ini fungsinya juga tidak berbeda dengan kebahagiaan. Bukankah kesedihan dihadirkan untuk merasakan kedalaman kebahagiaan ? tidakkah ada yang melihat, kalau kebahagiaan kehilangan kedalamannya ketika kesedihan di tolak ? adakah yang pernah merasakan getaran-getaran rasa yang mendalam justru ketika kesedihan menoreh luka sedemikian dalam ?
keserakahan untuk hanya menerima kebahagiaan dan membuang kesedihan, tidak saja membuat kebahagiaan berwajah hambar, juga membuat perdaban manusia bergerak dari wilayah dangkal ke wilayah dangkal yang lain.