Batang-batang itu adalah kenangan
yang semakin kurus
dan akhirnya hilang di balik salju
Cemara yang biasanya gaduh dalam canda
dengan angin tenggara
Kini bungkam dalam derita
menunduk berat ditindih salju
pucat dan semakin berat
Dalam kenangan cinta. Suka dan duka
tiada hati untuk mengaduh
Pucat. Putih dan semakin putih
lenyap segala kenangan
lenyap duka dan sedih
Putih rinduku, putih cintaku
Adalah cinta dalam kenangan dan rindu
cesz
August 27, 2006 at 9:39 am
Perasaan memang nggak bisa dirasiokan, direncakan apalagi ditebak. setelah sekian lama merasakan kebahagiaan, tiba2 aja awan hitam menyelimuti.
tapi berbahagialah seseorang yang masih memiliki perasaan, rasa sakit, rasa senang, bahagia, sedih, kangen (:”>). berarti tandanya masih hidup (kata giest). kebayang nggak kalau tiba2 dari awan hitam ada sititik jarum cahaya yang tiba2 menyinari ….. benar2 indah kk, walaupun hanya setitik jarum …….
febi_imut
August 27, 2006 at 12:04 pm
Puisi yang kau tulis tanpa kau sadari telah mencakar wajahmu sendiri dengan kukunya yang tajam. Dan kau menulisnya dengan rasa pedih dak sakit….Kau menulisnya sebagai rasa kagum, rasa sayang dan rasa debar didada seperti ombak dipantai yang tertimpa cahaya. Kau mengharapkan mengetahui semua rahasia dengan keelokannya…yang hadir di dalam hatimu.Andai kau tau puisi hanya akan menorehkan kembali rasa kecewa kenapa kau masih berharap ? puisi yang kau tulis hanya akan mengejekmu dalam kenangan dan kau akan tenggelam bersama pusaran arus yang memabukkan.