RSS
 

Jangan mau jadi buruh…..Terlanjur Nekad, Lakukan Saja.

07 Jun

Terlanjur Nekad, Lakukan Saja

“entrepreneur harus memiliki nilai tambah, karena seseorang yang punya nilai tambah rata-rata adalah orang-orang yang kreatif.”

iii

Kepepet, itulah penyebab awal perubahan yang dirasakan oleh Sahmullah Rivqi, mengingat usia yang semakin matang dan belum ada gelar pendidikan. Karena kuliahnya yang tertunda hampir 10 tahun di IISIP Jakarta dan keluar dari Sastra Belanda UI. Dalam perjalanannya itu Rivqi, begitu ia biasa disapa oleh para koleganya, merasa harus memilih bisnis. Hingga terpetik sebuah asumsi dalam dirinya bahwa untuk mendapatkan ilmu yang banyak, tekad “Just Do It” memang dibutuhkan. Perlu keberanian untuk memulai suatu usaha. Kita akan mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya di sana, tidak sekedar teori semata.

Sebagai Presiden Direktur Greenleaf Group yang menaungi beberapa bidang usaha seperti sekolah entrepreneurship, mini market GL, outdor advertising promo, video syuting, rental computer, lens production, dan sedang mencoba usaha di bidang travel dengan nama Tarbiyah Travel.

Omset sekitar 200juta per bulan ia peroleh dari sekolah entrepreneurship yang didirikannya bersama teman-teman remaja masjid di Pasar Minggu sejak satu tahun lampau. Padahal mereka memulainya dengan modal minus alias ngutang. Bahkan, kini ia sudah dapat memberikan gaji karyawan berdasarkan standar yang disepakati walaupun belum mencapai standar upah minimum regional (UMR) tapi dapat diterima dengan ikhlas oleh para pegawainya karena mereka termasuk pemilik usaha tersebut.

***

Menjadi problem solver bukan problem maker, begitulah yang coba dilakukan oleh suami dari Herliana. Sehingga saat ada peluang yang ditawarkan oleh Ferasta Muhammad (Bang Pepeng Prambors) untuk bersama-sama mengelola Jari-jari Communication ia memutuskan untuk menerima.

”Saat itu Bang Pepeng mojok-mojokin saya untuk memutuskan keluar dari Ratelindo (kini Esia,red.). Itu proses pertama saya keluar dari kemapanan menuju ketidak pastian. Saya belum pernah menemui perusahaan yang sebaik Ratelindo, menemukan bos sebaik bos di sana. Bahkan masuk kerjanya itu bisa dinegosiasikan untuk karyawan lain pukul 08.00 – 17.00 sementara saya bisa dapat izin masuk 09.00 – 14.30, karena saya kan masih kuliah di kampus dan saya masih jadi presidium BPM jadi perlu ngurus-ngurus segala macam. Dengan segala kebaikan Ratelindo, kebaikan hati bos kayaknya bodoh kalau benar-benar mutusin keluar,”lanjut pria yang sedang menanti kelahiran buah hatinya yang ketiga.

Staff Corporate Secretary adalah jabatan terakhirnya sebelum memutuskan keluar. Ia bertugas menerima laporan dari seluruh manajer Ratelindo seIndonesia dan menyajikan kompilasinya kepada direksi dan komisaris. Rivqi merasa efektifitas harinya bekerja hanya sebelas hari. Sisanya adalah kreativitas membuat tulisan, beberapa konsep kerja dan sebagainya.

Ada pelajaran berharga yang didapatnya dari Pepeng pada saat itu ketika diminta membuat konsep menggunakan fasilitas kantor berupa print warna tapi ia ditegur karena termasuk bentuk kecil korupsi. Oleh karena itu saat keluar dari kantornya pria yang pernah bekerja di Indosat selama 3 tahun ini menyampaikan surat permohonan maaf kepada direktur utama dan direktur keuangan karena telah menggunakan fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi, organisasi, dan sebagainya yang bukan urusan kantor.

***

Setelah keluar dari Ratelindo kemudian ia bergabung dengan biro iklan Bang Pepeng sebagai media manager.

“Waktu itu mental saya belum mental entrepreneur. Saya minta ke Bang Pepeng bisa nggak saya digaji sama seperti di Ratelindo waktu itu?”tutur Rivqi sambil tersenyum simpul.

Saat itu diakuinya ia tetap berjaga-jaga untuk penghasilan tambahan dengan membuka rental komputer di sekitar kampusnya. Sementara dari pihak Jari-jari Communication memperlakukannya sebagai mitra kerja bukan pekerja semata.

Proses pembelajaran dimulai, kesalahan-kesalahan dan ketidaktahuan bergulir dengan adanya hingga pendapatan perusahaan tidak mencukupi untuk operasional kantor. Sementara fasilitas, jaringan dan modal lainnya sudah disediakan. Sampai Bang Pepeng menyatakan perusahaan dibubarkan. Sebelum bubar Bang Pepeng sempat memberi wejangan, “Kalau Anda merasa dapat ilmu dari sini aplikasikan di tempat lain. Semoga Anda sukses dan semoga dengan berpisahnya kita ini menjadi kebaikan bagi semuanya,” tutur Rivqi menirukan ucapan Pepeng.

“Ternyata faktanya benar, Hampir semuanya sukses dan satu ilmu satu keyakinan yang semakin kuat ditancepin Bang Pepeng, “Jangan pernah mau jadi buruh,” tutur Rivqi penuh semangat.

***

Akhirnya lahirlah Greenleaf sebagai lembaga nirlaba yang mengumpulkan infaq dari orang-orang sekitar Masjid Al Hidayah, Villa Pejaten Mas, Pasar Minggu. LSM yang pada awalnya mengumpulkan infaq dari masyarakat sekita masjid. Kemudian berkembang untuk lebih memberdayakan remaja masjid untuk memiliki kecenderungan bisnis melalui pelatihan-pelatihan wirausaha. Berbekal jalinan silaturahmi dengan pengusaha-pengusaha yang kini telah menjadi pengajar di Greenleaf mereka memulai pelatihan wirausaha hingga menjadi sesi khusus dalam seri pelatihan yang dikemas secara serius sampai-sampai mereka bisa menyewa ruangan disalah satu hotel di bilangan Menteng. Salah satu pengusaha yang banyak mendukung adalah Purdi Chandra pemilik Primagama.

Visinya, mencetak pengusaha muslim yang sukses, jujur, cerdas, dan peduli. Pengusaha muslim jelas yang sukses, secara material secara dunia dan akhirat. Pengusaha dalam konteks Greenleaf adalah sebuah sikap mental bukan sebuah status.

“Jadi entrepreneur itu sikap mental yang saya adopsi sari salah satu pendapat mentor pendiri MQ Corporation, Pak Anwar Hadi. Ia selalu meyakinkan kami bahwa the real enterpreuner adalah orang yang mandiri. Independen meskipun kita karyawan, kehidupan kita tidak dibeli oleh uang gaji kita,” terang ayah dari Nada Alisia Ulfa dan Naila Syifa Mutmainah.

Selanjutnya, entrepreneur harus memiliki nilai tambah, karena seseorang yang punya nilai tambah rata-rata adalah orang-orang yang kreatif. Sedikit orang menyangka air putih bisa dijual dalam botol. Karena bisa diubah maka nilainya lebih besar. Itulah kreativitas. Seseorang yang bisa mengubah sesuatu yang biasa-biasa saja menjadi luar biasa.

 
1 Comment

Posted in Story

 

Leave a Reply

 
 
  1. ferri ardiNo Gravatar

    November 30, 2006 at 2:26 pm

    menarik jg ngebaca story Bp. rivqi, menjadi seorang enterpreuner memang memiliki tantangan sendiri, Kreasi atau penciptaan adalah suatu anugerah yang besar. Dengan berpikir kreasi atau menciptakan, kita akan selalu memiliki ide-ide segar yang mengawali setiap kegiatan baru yang dapat kita lakukan. Hingga pada akhirnya keberanian dan confidence yang akan menentukan seseorang mampu berpikir inovatif…

    Saya merupakan salah seorng yang memiliki jiwa enterpreuner, begitu banyak ide atau kreativitas di benak saya yang hanya sekedar menjadi sebuah wacana.. pembelajaran dari semua kegagalan yang pernah saya alami menjadi sebuah pengalaman yang sangat menarik dan semakin melecut saya untuk terus berkarya dan memunculkan ide2 baru.

    keterbatasan dan ketidakmampuan akan skill dan modal menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi saya. keingintahuan yang kuat dan semangat untuk terus belajar menjadikan saya terus berkembang hingga suatu saat nanti saya percaya KESUKSESAN itu akan Segera Datang.

    salam